Press "Enter" to skip to content

“Sandbox”, Hamparan Karpet Baru Bagi Industri Financial Technology

Hongkong merancang apa yang disebut dengan “sandbox” dimana akan memberi keleluasaan bagi bank untuk mendayagunakan financial technology (fintech) tanpa harus memenuhi suatu aturan secara penuh.

Sandbox” yang merupakan suatu tempat dimana para pelaku bisnis fintech dapat melakukan bermacam tes yang diperlukan untuk kemudian menawarkannya kepada nasabah dibawah pengawasan dari bank sentral, sebelum adanya penerbitan suatu aturan dan otorisasi secara penuh.

Hal ini merupakan inovasi dalam bidang perbankan untuk fintech, yang seolah menegaskan bahwa Hongkong tidak ingin kalah dengan Australia dalam perlombaan pengembangan industri fintech.

Seperti yang dikemukakan oleh Norman Chan, selaku chief executive Hongkong Monetary Authority (HKMA). Inovasi sandbox akan membawa sektor perbankan untuk mencoba dan menguji pengembangan teknologi. Dengan sandbox maka pihak bank tidak harus selalu memenuhi ketentuan pengawasan dari HKMA.

Dalam pemberitaan itnews.com.au, Hongkong mestilah tetap tekun untuk pengembangan industri fintech untuk tetap menjaga keunggulan kompetitifnya, meskipun dalam kesempatan itu juga Chan menagtakan bahwa dia tidak percaya Hongkong akan tertinggal dalam rivalitas kompetisi sebagai pusat fintech.

Keunggulan sandbox antara lain akan memberikan kemudahan bagi bank untuk mengarahkan inovasi sektor fintech, yaitu dengan pendistribusian teknologi ledger dimana sekaligus akan menantang keunggulan para startup yang bergerak dalam bidang fintech.

Dalam pemberitahuan HKMA kepada pihak perbankan, bank yang akan meluncurkan proyek fintech dimana melibatkan “nasabah tertentu” harus melakukan pengujian dengan baik terhadap kemampuan teknologinya, secara cermat memperhatikan manajemen risiko, perlindungan konsumen dan pengawasan melekat. Lebih lanjut, untuk dapat menggunakan sandbox, maka bank harus mengajukan permohonan kepada otoritas HKMA.

Sebagai perbandingan global, termasuk di Singapura, Australia dan Inggris sudah lebih dahulu berkecimpung dalam pengaturan tentang inkubator bisnis dimana memperbolehkan pebisnis fintech melakukan eksperimen dengan bisnis model dan produknya tanpa harus memenuhi aturan hukum sektor keuangan.

Meskipun terdapat perbedaan perlakuan di setiap negara, pada umumnya mereka memperbolehkan bisnis fintech untuk sementara melepaskan atau mengecualikan dari aturan seperti pemenuhan permodalan dan pengalaman manajemen.

Meskipun pemerintah Tiongkok telah mendorong Hongkong sebagai pusat industri fintech, namun kritik masih terus bermunculan. Diantaranya adalah mestinya Hongkong agak melambatkan geraknya untuk mengakomodasi pebisnis fintech, yang masih tergolong bisnis baru dalam bidang online dan harus memenuhi persyaratan perizinannya.

Di Indonesia Bank Indonesia (BI) akan meluncurkan fintech office yang akan menjadi wadah evaluasi, assessment, dan mitigasi risiko dalam pengembangan perusahaan-perusahaan di bidang fintech, khususnya terkait sistem pembayaran. BI juga akan menerbitkan peraturan terkait penyelenggaraan transaksi pembayaran (PTP) yang antara lain akan mengatur pelaksanaan transaksi pembayaran oleh fintech, termasuk dompet elektronik (e-wallet) paling lambat pada Oktober mendatang.

Fintech office akan menjadi wadah evaluasi, assessment, dan mitigasi risiko. Fintech office dapat menjadi inisiator riset terkait kegiatan fintech, ajang kolaborasi pertukaran ide inovatif antar pelaku industri dengan regulator, sebagaimana beritasatu.com memberitakan pada (22/09/2016).

Juli lalu, reuters melaporkan bahwa Hongkong berada di bawah Singapura, yang telah mengembangkan kombinasi antara pendanaan dan kemudahan dalam regulasinya untuk menjadi pemimpin di Asia dalam industri fintech.

Hal yang sama juga dikemukakan oleh James Lloyd, selaku Asia-Pacific fintech leader pada konsultan keuangan EY, Hongkong. Menurut James konsep sandbox  akan membawa pengenalan kepada model bisnis baru. “Sebagai tiga besar sektor keuangan, Hongkong harus merencanakan tipe kerja baru dari teknologi yang inovatif, proses dan bisnis model yang disediakannya” pungkas James.

Share your vote!


Do you like this post?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid
.

Copyright © 2020 Yuridis All Rights Reserved