Press "Enter" to skip to content

20 Emiten BUMN di Bursa Efek Indonesia

Pasar modal sebagai sarana untuk mencapai kecukupan pendanaan yang diperlukan oleh suatu entitas bisnis, dengan pola penawaran umum perdana. Kecenderungan untuk merambah bursa saham bagi perusahaan dianggap sebagai kesempatan guna memperoleh kapitalisasi permodalan perusahaan, selain sebagai daya tarik bahwa menjadi perusahaan terbuka (tbk) terlihat “berkelas”, meskipun senyatanya tidak selalu demikian.

Emiten, sebutan untuk perusahaan yang sudah tercatat di bursa harus siap dengan segala konsekuensinya menyangkut unsur keterbukaan. Manajemen, keuangan dan operasional perusahaan selalu mendapat sorotan oleh publik, karena kepentingan publik terhadap aktivitas usaha emiten. Berita yang tidak sedap, terkadang menjadikan sentimen negatif di bursa dan membuat nilai saham terkoreksi.

Badan Usaha Milik Negara (BUMN), yang di Indonesia merupakan perpanjangan tangan pemerintah dalam konteks pelayanan terhadap kepentingan masyarakat. BUMN mengolah sumber daya ekonomi yang dinilai cukup vital dan strategis dalam pemenuhan kebutuhan masyarakat. Pengaturan BUMN pada Undang Undang No. 19 Tahun 2003 dibentuk dengan pola perusahaan umum (perum) dan persero.

Sandi Pardamean menulis dalam forbumn, menyatakan bahwa peran BUMN dalam hal ekonomi yang dapat dilihat jelas adalah adanya pos pendapatan negara di APBN yang disebut “Bagian Laba BUMN”. Tak hanya itu, BUMN juga diharapkan untuk dapat menambah penerimaan negara lewat pos pajak. Namun dalam perkembangannya, pos ‘Bagian laba BUMN’ tidaklah menyumbangkan nilai yang signifikan bagi pendapatan negara dalam kerangka APBN. Persentase pos “Bagian Laba BUMN” terhadap pendapatan negara pada pengamatan enam tahun terakhir (2007 -2012) hanya dalam kisaran 3 persen dari total pendapatan dan cenderung mengalami penurunan sejak 2007. Fakta yang tentunya menunjukkan sinyal kurang baik atas kinerja BUMN. Perbandingan sederhana yang membuat minimnya kontribusi BUMN terhadap ekonomi Indonesia adalah apabila dikomparasi dengan pos “Cukai” di pendapatan negara. Cukai yang didominasi oleh cukai hasil tembakau (96,7%) mampu menyumbangkan rata-rata 6,35 persen terhadap total pendapatan negara sejak tahun 2007, itu berarti dua kali lipat dari kontribusi BUMN.

Jumlah BUMN yang melantai di Bursa Efek Indonesia sampai dengan 2013 ini tercatat 20 emiten, yang terbaru melakukan Initial Public Offering (penawaran umum perdana) saham adalah PT. Semen Baturaja (Persero) Tbk, pada tanggal 28 Juni 2013, dengan kode SMBR. Sahamok merilis daftar BUMN tersebut, berturut turut yaitu pada sektor Farmasi PT. Indofarma (Persero) Tbk, kode INAF, tanggal IPO 17 April 2001 dan PT. Kimia Farma (Persero) Tbk, kode KAEF, tanggal IPO 4 Juli 2001. Sektor energi, PT. Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk, kode PGAS, tanggal IPO 15 Des 2003. Sektor Industri Logam PT. Krakatau Steel (Persero) Tbk, kode KRAS, tanggal IPO 10 Nov 2010. Sektor Konstruksi  PT. Adhi Karya (Persero) Tbk, kode ADHI, tanggal IPO 18 Maret 2004, PT. Pembangunan Perumahan (Persero) Tbk, kode PTPP, tanggal IPO 9 Februari 2010, PT. Wijaya Karya (Persero), Tbk, kode WIKA, tanggal IPO 29 Oktober 2007 dan PT. Waskita Karya (Persero), Tbk, kode WSKT, tanggal IPO 19 Desember 2012. Sektor Perbankan PT. Bank Negara Indonesia (Persero), Tbk, kode BBNI, tanggal IPO  25 November 1996, PT. Bank Rakyat Indonesia (Persero), TBk, kode BBRI, tanggal IPO 10 November 2003, PT. Bank Tabungan Negara (Persero), Tbk, kode BBTN, tanggal IPO 17 Desember 2009 dan PT. Bank Mandiri (Persero) Tbk, kode BMRI, tanggal IPO 14 Juli 2003. Sektor Pertambangan PT. Aneka Tambang (Persero) Tbk, kode ANTM, tanggal IPO 27 November 1997, PT. Bukit Asam (Persero) Tbk, kode PTBA, tanggal IPO 23 Desember 2002 PT. Timah (Persero) Tbk, kode TINS, tanggal IPO 19 Oktober 1995. Sektor Semen PT. Semen Baturaja (Persero) Tbk, kode SMBR, tanggal IPO 28 Juni 2013, PT. Semen Indonesia (Persero) Tbk, kode SMGR, tanggal IPO 8 Juli 1991. Sektor Angkutan dan Prasarana Angkutan PT. Jasa Marga (Persero) Tbk, kode JSMR, tanggal IPO 12 November 2007, PT. Garuda Indonesia (Persero) Tbk, kode GIAA, tanggal IPO 11 Februari 2011. Sektor Telekomunikasi PT. Telekomunikasi Indonesia (Persero), Tbk, kode TLKM, tanggal IPO 14 November 1995.

Laman detik juga merilis, SMBR merupakan emiten ke-20 yang mencatatkan sahamnya di BEI dan urutan ke-472 dari seluruh emiten yang tercatat di BEI. Menurut Deputi restrukturisasi dan privatisasi Kementerian BUMN Wahyu Hidayat, kapitalisasi pasar saham emiten BUMN di Bursa Efek Indonesia (BEI) cukup tinggi, bahkan 6 emiten BUMN masuk dalam 10 besar jajaran emiten yang memiliki nilai kapitalisasi terbesar di BEI. Dari 6 emiten BUMN itu nilai kapitalisasinya mencapai 25,7 persen dari total kapitalisasi di pasar modal Indonesia.

“Diantara 20 emiten BUMN yang sudah listed, 6 diantaranya masuk 10 besar kapitalisasi, 4 swasta dan 6 BUMN. Kata Wahyu saat pencatatan saham SMBR di Gedung BEI, Jakarta, (28/6/2013).

Share your vote!


Do you like this post?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid
.

Copyright © 2020 Yuridis All Rights Reserved